Enter your keyword

Cerita Pemuas Nafsu (khusus 18+)

Rabu, 22 Maret 2017

Tante Yang Mengintipku Saat ML Dan Akhirnya Ingin Merasakannya Juga

By On 3/22/2017 10:18:00 AM
cdewasa18.blogspot.com - Ah, lega rasanya, setelah hampir setahun penuh berkutat dengan pelajaran, akhirnya aku dapat menyelesaikan Ujian Akhir Sekolahku dengan baik,yah walau pun aku tak berani menjamin aku dapat nilai tinggi pada ujian itu, yang penting semua telah berlalu dan aku sekarang bebas.



Nafsuku juga sudah tak tertahankan lagi, selesai ujian aku langsung mencari “istri-istriku” tapi mereka semua menghilang entah kemana, katanya sih pergi hura-hura, bahkan Putri, yang biasanya tak pernah menolak pun, dengan memelas mengatakan malam ini ia tak bisa karena besok harus pergi ke luar kota utuk mendaftar di universitas.
“Ya sudahlah” kata batinku dalam hati, dan aku sangat bersyukur saat teman-teman kostku yang umumnya sudah kuliah mengajak hang out di kafe sambil nonton live band Tak apalah, toh aku sudah lama tidak jalan bareng mereka, maklum, semenjak nilai kelulusan UAN dipertinggi, aku seketika jadi kutu buku yang terus belajar.
Akhirnya dengan sedikit malas-malasan aku mandi, berpakaian seadanya lalu pamit pada Ibu kos yang masih saudara jauhku, lalu tanpa terasa, akibat obrolan akrab yang rileks, akhirnya kami sudah mengambil tempat di salah satu meja di kafe tersebut Aku masih sangat asing dengan kafe tersebut, karena mamang baru saja dibuka sewaktu aku sedang berkutat dengan soal-soal.
Waktu terus bejalan, sampai tak terasa kami sudah duduk selama 2 jam di kafe itu, dan karena ini bukan malam minggu, kafe tersebut sudah lumayan sepi, dan kami sadari hanya kamilah saat itu yang masih menyandang status remaja, selain musisi band kafe tentunya.
Lainnya merupakan orang kantoran yang sedang bersantai sehabis lembur, beberapa pasangan, yang semuanya berusia jauh diatas ku Tiba-tiba seorang pelayan kafe menghampiriku, dengan setengah bebisik ia menyampaikan sebuah pesan untukku.
“Permisi mas, ini ada titipan” ujarnya sambil menyerahkan secarik kertas padaku.
“Dari siapa mbak?”
“Maaf, dia menolak untuk diberitahu” jawab pelayan tersebut yang membuatku semakin penasaran, langsung saja aku buka memo itu.
“MISCALL KE NO INI DONG 081********”
Seketika dahiku mengerut membaca memo itu, lalu karena penasaran aku langsung menghubungi nomor itu, setelah tersambung dan saat aku hendak bertanya siapa disana, tiba-tiba dia menutup teleponnya Penasaran aku mencoba menghubungi kembali, namun yang ada hubungan diputuskan sebelum tersambung.
Setengah jengkel aku memasukkan hpku ke saku kembali, lalu kembali tenggelam dalam cerita seru teman-temanku, yang ternyata tidak tahu kejadian barusan Sedang asik-asiknya bercanda, tiba-tiba hpku berdering, lalu dengan segera aku melihat ke panel untuk mengetahui siapa yang menelepon, ternyata nomor yang tadi.
“Hallo”
“Hai, sori yah mengganggu, tapi boleh kenalan ga`?”.
“Ya boleh saja, tapi kamu dimana?”.
“Lihat saja kearah jam 4″ lalu dengan refleks aku berbalik dan menemukan sesosok wanita sedang melambai kearahku.
“Kesini dong”.
Langsung saja aku mencuil lengan temanku dan mengatakan aku ingin ke toilet, dan akupun berjalan menuju wanita itu,dia mengenakan baju coklat dengan pundak terbuka serta celana jins dan tak pakai lama aku ketahui namanya ternyata Marie, dan yang membuat aku terkejut adalah umurnya ternyata sudah mencapai 34, padahal dari tadi aku menyangka paling banyak dia berumur 25 tahun, cantik, menarik, dan kalau aku boleh bilang, seksi.

Dan untuk menghormatinya aku merubah panggilan kakak menjadi tante marie Aku tak pandai menaksir tinggi berat dan tinggi tubuh seseorang, tapi aku amat tertarik pada kedua bukit kembarnya yang menjulang dan masih terlihat kencang.
“Mand, kalo ngomong ma orang tuh, yang di perhatiin tu mukanya bukan toket nya” ujar tante marie di sela-sela omongan.
“Astaga”kataku dalam hati.
“Eh… sori tan, abis bagus banget si, gede, padet,asik kali yah kalo bisa ngeremes” ujarku spontan sambil pasrah apabila tante marie langsung menempeleng mukaku, karena berkata kurang ajar, tapi ternyata.
“Eh jadi toket aku masih menarik yah” tanyanya sambil melirik ke toketnya, aku yang merasa dapat angin langsung melanjutkan.
“Iya tante, masi bagus, tante pandai yah merawatnya”.
Saat sedang asik-asik ngobrol, teman-temanku mencuil lenganku lalu mengajakku pulang, sekalian saja aku mengenalkan mereka pada tante marie, dan entah bagaimana sepertinya tante marie meyakinkan mereka kalau kami punya hubungan saudara dan sudah lama tak bertemu, temanku yang tadinya ingin mengajakku pulang jadi meninggalkan aku dengan tante marie, setelah tante marie meyakinkan dia yang akan mengantarku pulang.
“Tapi kamu mo ngeremes toket tante, jadi gak? kan tante ngaku jadi saudara kamu” ujarnya seperti bisa membaca keherananku setelah teman-temanku pergi.
“Eh… iya” jawabku agak grogi mendengar perkataan tante marie.
“Hihihi… ko malah grogi si?”.
“Eh… enggak ko tan, biasa aja, j…jadi mand boleh ngeremes ni tan?” kataku mencoba berkata selurus mungkin tapi aku yakin dan pasti suaraku seperti orang ketakutan, dan aku makin yakin pada hal itu saat mendengar tawa tante marie.
“Hahaha… jangan grogi gitu dong, biasa aja”.
“Yuk ah, kita pergi, kafenya juga dah mau tutup ni” kata tante marie lalu menarik tanganku keluar kafe dan langsung menuju parkiran.
Akhirnya kami sudah berada dalam BMW m3 silver kepunyaan tante marie, lalu setelah memutar musik klasik di tape mobilnya ia dengan tiba-tiba menurunkan pundak bajunya sampai ke perutnya sehingga terlihatlah bh putihnya, tak pakai lama, bh itu sudah terlepas dan tergeletak begitu saja di jok belakang, aku hanya menelan ludah melihat sepasang tonjolan, lebih tepatnya gundukan besar di dadanya, menggantung tegak menjulangkan putting coklat muda di tengah-tengah gundukan itu.
“Lho, ko cuma diliatin? Katanya mau ngeremes?” kata tante marie.
Langsung saja aku menerkam gundukan nafsu itu dengan liarnya, yang membuat tante marie menjadi merintih-rintih seketika Seolah terpacu oleh sura rintihan itu, aku semakin liar menggarap toket itu, yang kanan ku jilati, kugigit puttingnya, sedang yang kiri aku tangani dengan tangan kiri, aku remas dengan lembut tapi penuh nafsu, sambil terkadang menjentil-jentil putingnya.
“Sayang, sabar dulu yah, kita kerumah aku aja, kalo disini ntar kepergok lagi” ujar tante marie, dan aku pun menggauk tanda setuju, tapi aku tetap menahan tangan tante marie saat ia hendak membenahi bajunya, jadilah sementara tante marie mengemudi tanganku tetap mempermainkan toketnya itu.
Tak lama, mobil tante marie sudah memasuki gerbang sebuah rumah besar di pinggir kotaku Bukan besarnya rumah yang membuatku terkejut, tapi aku sudah sangat kenal dengan rumah ini, karena aku sering menggarap Putri disini, ya, ini rumah keluarga Putri, dengan penuh tanda tanya aku menunggu tante marie membukakan pintu Setelah didalam, keterkejutanku belum hilang, dan tampaknya tante marie sadar akan hal itu, sehingga di berkata.
“Kenapa? Kok heran sih? Ini memang rumah keluarga Putri”.
“Em… tante nyewa disini yah?”.
“Bukan, gini yah, aku ini simpananya papanya Putri, jadi aku dibuat seolah-olah ngontrak disini, pas kemaren kamu main ma PUtri disini aku juga liat ko, pasti kalian ngira rumah ini kosong kan? Waktu itu aku sudah ada dirumah ini” ujar tante marie menjelaskan panjang lebar.

“Jadi tante liat aku dengan Putri… ”.
“Semuanya!” kata tante Marie menegaskan.
“Makanya aku jadi kepengen nyobain ma kamu, abis Putri keliatannya nikmat banget sih”.
“Ah tante curang, tante dah liat aku tapi aku cuma dapet toket doang”.
Selesai berkata begitu tante marie mendorongku ke sofa lalu memasang memasang musik.
“Tenang aja sayang, aku ngajak kesini bukan cuma buat toketku aja”.
Musik mengalun, irama dance mengiringi langakah perlahan tante marie yang mengeluarkan aura kesexyannya, bajunya yang tadi aku buka entah sejak kapan melekat kembali dibadannya Setelah tiba didepanku, ia menatapku menggoda, lama sekali rasanya sebelum ia mulai mengusap-usap selangkangannya dan mulutnya mengulum tanganya yang satu lagi, sambil sesekali memukul pantatnya.
Saat yang dikiranya aku sudah panas berat, ia mulai bergoyang mengikuti irama dance, meliuk-liuk erotis, sambil memainkan pinggiran bawah bajunya, sesekali ia mengangkat baju itu hingga perut mulusnya kelihatan Jantungku semakin cepat berpacu saat ia mengangkat baju itu dan mencampakkannya entah kemana, begitu juga dengan celananya sudah tak menutupi paha mulusnya lagi.
Sekarang dengan hanya tertutupi oleh bh dan cd ia menari lebih liar, sehingga toketnya berguncang-guncang, sepeti hendak jatuh Akhirnya ia membalikkan badannya, lalu menungging persis di depan hidungku, dengan perlahan ia tarik kesamping penutup vaginanya sehingga memperlihatkan sorga bagi ****** pria.
Sebelum lidahku mencapai vagina itu, ia menarik pantatnya Setelah menari sedikit lagi, tante marie menggapai pengait bhnya dibelakan, dan dengan satu hentakan bh itu seketika menjadi longgar dan toketnya seperti terloncat.
Setelah bermain-main dengan toketnya sebentar, ia berjalan kearahku, lalu duduk di pangkuanku Sempat bertatap mata sebentar, ia menempelkan bibirnya ke bibirku, lalu dengan agresif meluamatnya Lidahnya mulai menyelinap ke dalam mulutku, lalu dengan tiba-tiba aku menyedot lidah itu sekuat tenaga, sehingga tante marie tersentak kaget, dan sebagai ekspresi kenikmatannya pantatnya digesek-gesekannya ke selangkanganku.
Seketika kontol ku berdenyut dengan hebatnya, lalu mulai berevolusi menjadi senjata tempur Sepertinya tante marie merasakan desakan di pantatnya, sehingga ia turun dan mulai melepaskan resletingku, saat tanganya menyelinap di cd ku, ia menarik keluar ******ku yang hampir berevolusi sempurna itu.
“Waduh, hebat banget, kamu masih kecil tapi ******nya dah gede gini, wah bulunya nyampe batang yah? asik ni, bakal nikmat” ujar tante marie tanpa bisa menghentikan ekspresi keterkejutannya Memang, akibat kebodohanku di waktu kecil dibatangku juga tumbuh bulu, tapi akhir-akhir ini, aku tahu bahwa itu membawa kenikmatan ekstra bagi vagina wanita, apa lagi bulu itu aku pangkas pendek, sehingga menjadi berdiri dan tajam-tajam, seperti kumis atau jenggot yang baru dicukur.
Sementara itu tante marie keliahatan berkonsentrasi memasukkan ******ku ke mulutnya, ia hanya berani memasukkan sampai batas bulu batangku, mungkin dia tak dapat menahan geli-geli akibat bulu-bulu itu Sambil meremas-remas pelirku dengan lembut, ia menaik turunkan kepalanya di selangkanganku.

Bosan dengan kevakumanku, tante marie membimbing ku kelantai lalu berbalik untuk posisi 69 Cd hitamnya kini terpampang di depan wajahku, dengan perlahan aku gosok tengah cdnya dengan jariku Seketika aku sudah melepaskan cd itu, dan kini terpampanglah vagina yang bersih dari bulu dihadapanku Aku telusuri belahanya dengan jariku lalu aku kuakkan celah itu sehingga memperlihatkan daging merah muda yang tersimpan dibaliknya.
Tanpa menghiraukan bau khas vaginanya aku menjilatinya perlahan, sehingga tante marie yang sedang mengerjai ******ku mendesah-desah keenakan Ia mengangkat tubuhnya lalu pindah ke sofa Seakan memanasi aku, ia mengusap-usap vaginanya sambil medesah-desah.
Tanpa disuruh aku langsung menerkam vagina itu, kali ini aku tak sungkan untuk berlaku liar pada vaginanya, sehingga kelembutan yang tadi aku tunjukan hilang seketika tante marie tampaknya terkejut akan perubahan itu, sehingga memaksa mulutnya megeluarkan desahan-desahan hebat, untuk mengekspresikan kenikmatan yang dia rasakan.
“Uohh… sayang, enak sayang, terus… ya disitu” Ucapnya berkali-kali saat lidahku mengenai klitnya Teriakan itu bagai penyemangatku untuk melakunnya lebih liar lagi, sehingga desahan itu semakin tak terkotrol lagi keluar dari mulut tante marie.
“Ukh… sayang aku tak kuat lagi, masukkan sayang… sekarang”.
Mendengar itu aku, langsung mengendurkan seranganku di vaginanya, dan hanya menciumi bagian dalam pahanya Menyadari hal itu, tante marie terlihat kecewa,
“Sayang, masukkan sekarang aku sudah ga kuat lagi” rintihnya setengah memohon.
Aku yang memang menyukai keadaanya itu, seolah tak menghiraukannya Lalu tante marie terlihat kalap, ia berdiri lalu menidurkan aku di lantai, dan tanpa banyak tanya lagi, ia meraih ******ku lalu dengan setengah berjongkok ia menempelkan ******ku ke bibir vaginanya yang sudah basah itu, dengan sekali entakan,
Setengah ******ku menerobos liang vaginanya Lalu ia mencoba menekankan agar ******ku masuk lebih dalam, tapi saat bibir vaginanya menyentuh batas bulu batangku ia sontak menarik pantatnya, terlihat ia menggigit bibir bawahnya menahan kenikmatan Iba melihatnya, aku raih tubuhnya lalu aku kecup bibirnya, sesaat sebelum aku hentakkan pantatku keatas aku peluk dia erat-erat sambil tetap menciumi bibirnya.
“Mmph…” terdengar jeritan tertahan keluar dari mulutnya saat aku dorong pinggulku keatas, dan pinggulnya terlihat menegang Aku peluk di lebih erat, dan pantatnya aku tekankan kebawah sehingga ******ku sekarang sepenuhnya tersarung di vaginanya Aku renggangkan pelukanku, dan membiarkan tante marie menikmati bulu batangku di vaginanya.
Tak lama, tante marie bangkit, dan mulai menggerak-gerakan pinggulnya, terasa bagai sengatan listrik kenikmatan itu menjalar di seluruh tubuhku Makin lama gerakannya semakin cepat dan liar, tak jarang ia menggoyangkan pinggulnya kekiri dan kekanan seakan ingin mereamas ******ku dengan vaginanya Sekian lama bergoyang kenikmatan sesaat menjelang keluarnya sperma mulai kurasakan, tapi tiba-tiba saja tante marie melenguh dan vaginanya meremas ******ku kuat.
“Arghh… sayang aku dah keluarrrrr” teriaknya diiringi desakan air hasil orgasmenya di ******ku, toketnya yang besar itu jatuh menimpa dadaku setelah tubuhnya mengejang Aku biarkan dia menikmati keadaan ini sebentar, aku peluk dia sambil lehernya kukecup.
Setelah tante marie tenang, dengan ******ku masih bersarang di vaginanya aku balikkan dia secara tiba-tiba Belum hilang kekagetanya, aku raih kedua tanganya lalu aku tahan diatas kepalanya, dan tanpa ampun aku langsung mengenjotnya sekuat tenaga, kali ini aku betul-betul buas melihat toketnya yang menjulang karena tanganya aku letakkan diatas kepala, sambil pinggulku terus bergerak turun naik, mulutku terus melahap toketnya, aku jilati, aku hisap sekuat tenaga.
Tampaknya tante marie setengah mati menerima seraganku, pinggulnya bergoyang kegelian, tubuhnya menggeliat, tanganya berusaha melepaskan peganganku agar bisa meremas sesuatu untuk meredam nikmatnya, tapi aku tak mau tau, aku tetap mengenjotnya sambil menghisap-hisap putingnya, sehingga tante marie hanya bisa teriak-teriak untuk mengekspresikan kenikmatan yang dia rasakan.

Dalam beberapa menit, teriaknya semakin liar dan ditandai teriakan keras ******ku kembali dibasahinya dengan air orgasmenya Aku yang juga merasakan hampir sampai tak mengurangi seranganku sedikit juga, tak peduli hentakan tante marie yang semakin kuat untuk melepaskan belengguku Akhirnya saat itu akan tiba, ******ku serasa hendak meledak.
“Tante, aku keluarrrrrr… arghhh… ” teriaku sesaat sebelum ******ku meledak Lalu diawali dengan tusukan kuat yang membenamkan ******ku penuh ke vaginanya aku muntahkan spemaku di dasar terdalam vagina tante marie, tak cukup sekali, aku kembali menghentak seiring tembakan kedua di vaginanya, terus ketiga, dan akhirnya berhenti di hentakan kelima.
Tangan tante marie terlepas dan seluruh badanku menjadi lemas, hanya satu yang masih berdiri tegak, ******ku masih terasa menegang di vagina tante marie Menyadari hal itu tante marie kembali membalikan tubuhnya, lalu mengenjot pantatnya.
Aku yang sudah tak kuat lagi berusaha melepaskannya, tapi seakan ingin balas dendam,tante marie menahan tangaku, dan ia terus menaik turunkan pantatnya Seakan tubuhku dialiri listrik yang keluar dari vagina tante marie, tapi ia tak mau tau, tante marie terus menaik turunkan pantatnya, hingga akhirnya ia orgasme buat yang ketiga kalinya.
tante marie tampaknya juga kelelahan sehingga ia langsung merebahkan diri di atas dadaku, lalu setelah bericiuman aku memeluk tante marie dan tidur karena kecapean ******ku yang masih di dalam vagina tante marie perlahan mengecil dan akhirnya terlepas, dan dari vaginanya menetes cairan, aku tak dapat melihatnya, hanya merasakan cairan itu di ******ku Melihat tante marie yang membiarkanya, aku pun melanjutkan tidurku.
Saat aku terbangun, aku sudah diselimuti, dan tante marie tak tampak, lalu setelah berkeliling, aku menemukan dia sedang memasak telur di dapur, perlahan aku dekati dia, aku peluk dari belakang, lalu tanpa permisi lagi aku buka celananya lalu aku tusuk dari belakang, tante marie melenguh keenakan, ia mematikan kompor lalu berbalik dan menciumku.
“Sabar dulu sayang, kita masih banyak waktu, sarapan dulu, biar kuat” ujarnya lembut, aku pun menungguinya masak dengan tetap telanjang sambil tetap mempereteli tubuhnya, toketnya, bahkan menusukan jariku di vaginanya yang sudah tak berpenutup.
Kami sarapan bersama, aku hanya mengenakan celana pendek tante marie, sehingga selesai sarapan, tante marie dengan mudah menemukan ******ku dibawah meja lalu mengulumnya Hari itu kami melakukannya 3 kali, sampai hari menunjukkan pukul 2 siang.
Kalau aku tak ingat ada janji dengan teman-temanku, aku pasti akan menyetubuhi tante marie lebih banyak.

Jumat, 17 Maret 2017

Seorang ABG Yang Suka Banget Dengan Asi Besar

By On 3/17/2017 10:40:00 AM
cdewasa18.blogspot.com - Marwah baru berusia 29 tahun, tapi sudah menjanda Suaminya mati dalam sebuah kecelakaan bus, meninggalkannya sendirian dengan tiga orang anak yang masih kecil-kecil Hidupnya jadi susah, karena itulah ia pulang ke desa untuk hidup bersama kedua orang tuanya.




Menjadi seorang janda bukan berarti sudah tidak menginginkan sex lagi Itu salah Buktinya, Marwah masih saja menginginkannya, apalagi sudah lama ia tidak mendapatkannya Memeknya jadi gatal, tapi ia harus sekuat tenaga menahannya Sebagai seorang wanita yang baik, ia tidak boleh terlalu vulgar mengumbar nafsu birahi nya.

Di desa, Marwah memelihara ayam Dia juga mempunyai sebuah kolam ikan peninggalan almarhum suaminya serta beberepa petak sawah dan sedikit ladang kering Sehari-hari ia sibuk mengurusnya, lumayan untuk sedikit mengalihkan perhatiannya.

Sehari-hari, ia akrab dengan seorang anak pengangon kambing yang sesekali suka mengusilinya Namanya Adi, usianya baru 17 tahun Selain usil, Adi juga suka bicara seenaknya Mulanya Marwah risih juga mendengar perkataannya yang tak senonoh itu.

Tapi setelah memperhatikan, ternyata anak itu hanya berkata jorok bila mereka berdua saja, dan semua kata-katanya tidak sampai terdengar keluar Hanya mereka berdua yang tahu Itu membuat Marwah yakin kalau Adi adalah anak yang pintar menjaga rahasia

Sampai akhirnya, terjadilah peristiwa itu…

Hari sudah beranjak sore ketika Marwah berniat untuk mandi Itu adalah rutinitasnya seperti biasa, tapi entah mengapa, sore itu ia merasa tidak enak hati, seperti ada yang membuatnya deg-degan Perasaannya jadi tidak menentu, naluri kewanitaannya mengatakan bakal ada sesuatu yang terjadi Entah itu baik ataupun buruk.

Dan benar saja, saat mau menyirami tubuh telanjangnya yang sudah disabuni, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sepasang mata yang mengintip penasaran dari balik dinding gedek Seperti umumnya kamar mandi di desa, kamar mandi Marwah juga cuma ditutup gedeg atau anyaman bambu sebagai sekatnya Siapapun yang berniat mengintip akan dengan mudah melihat dari celah dinding bambu Dan sore ini, Adi melakukannya Ya, Marwah sangat hafal sekali, itu adalah sepasang mata milik si bocah.

”Adi, ngapain kamu?!” tanya Marwah dari dalam

“Ya, ini aku, Budhe…” jawab Adi enteng tanpa merasa bersalah sedikitpun Ia malah tersenyum lebar karena sudah berhasil mengintip tubuh montok Marwah yang sehari-hari tertutup jubah panjang dan jilbab lebar Memang, tidak semua orang bisa seberuntung dirinya saat ini.

Dalam hati, Marwah membatin, ”Nakal sekali anak ini, harus aku kasih pelajaran!” Dan pelajaran yang cocok untuk anak semacam Adi adalah… Marwah akan membiarkan bocah kecil itu terus mengintip tubuhnya! Rasain, biar saja dia jadi puyeng karena melihat seluruh tubuhnya Marwah tidak peduli Salah sendiri jadi anak kok nakal banget.

Pura-pura tidak terjadi apa-apa, Marwah meneruskan acara mandinya Sambil mengguyur tubuh montoknya yang masih penuh busa sabun, ia sedikit meliuk-liukkan tubuhnya, memamerkan bokong dan tetek besar nya yang bulat montok pada Adi Tersenyum dalam hati, Marwah memperhatikan betapa Adi terdiam dan terkagum-kagum memandanginya Bocah itu melotot dengan air liur hampir menetes keluar.

Jangankan Adi yang baru beranjak gede, orang-orang di pasar saja suka usil bila melihat Marwah Mereka suka mencolek dan menggodanya kala Marwah menjual telur bebek ke salah satu kios langganannya Dengan kemolekan tubuhnya, Marwah dengan cepat menjadi idola para pedagang telur di pasar inpres.

Tapi untunglah, dengan dandanannya yang alim dan sopan, sampai saat ini belum ada yang berani berbuat macam-macam kepada dirinya Dan Marwah berharap, semoga selamanya juga tidak ada Dia ingin menjalani hidupnya di desa ini dengan tenang Marwah tidak ingin mencari masalah.

Setelah tubuhnya bersih, Marwah mengambil handuk yang ada di cantolan baju Pelan dia mengusap sisa-sisa air yang masih menempel di tubuh montoknya Diperhatikannya Adi yang masih tetap setia mengintip dari celah dinding Marwah tersenyum, ia berniat untuk unjuk diri sekali lagi.

Entah kenapa, menghadapi Adi yang usil, sisi liar Marwah jadi bergejolak seperti ini Padahal biasanya ia cukup teliti menjaga aurat, buktinya ia selalu mengenakan baju panjang dan jilbab kalau keluar rumah Marwah tidak ingin ada yang menikmati lekuk tubuh montoknya secara gratis.

Menghadap persis ke arah Adi, Marwah mulai beraksi Sedikit membusungkan dada, ia mulai meremas-remas kedua bukit kembarnya berulang kali, membuat benda yang masih kelihatan padat meski sudah digunakan menyusui 3 orang bayi itu semakin terlihat indah Marwah juga memilin-milin putingnya yang mungil kecoklatan, yang kelihatan sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang putih mulus.

Tak berhenti sampai di situ, tangan Marwah turun ke bawah dan mulai mengusap-usap bibir vaginanya Dia mencolokkan dua jarinya ke dalam dan mulai mengocoknya dengan begitu lembut Di luar, Adi menegang dan terpana saat melihat Marwah yang mulai bermasturbasi di depan matanya.


Adegan itu terus berlangsung selama beberapa menit sampai akhirnya Marwah menjerit keenakan tak lama kemudian Dari memeknya memancar air bening yang amat deras Adi tak berkedip memandanginya, bahkan ia terlihat semakin menempelkan matanya di dinding kamar mandi agar bisa melihat lebih jelas lagi.

Terengah-engah penuh kepuasan, Marwah mengguyur tubuhnya Ia mandi sekali lagi Dilihatnya Adi masih setia mengintip apapun yang ia lakukan Marwah segera menegurnya ”Sudah, Di. Sudah tidak ada yang bisa dilihat ” katanya begitu acara mandi sore itu selesai.

Tidak mendengar jawaban, Marwah menebak kalau Adi sudah pergi Hari sudah mulai gelap hingga ia tidak bisa melihat ke antara celah dinding kamar mandi Marwah segera mengenakan baju panjangnya kembali dan berjalan keluar menuju rumah

Hari masih pagi ketika Marwah pergi ke sawah untuk melihat bebek-bebeknya Saat itu dia membawa beberapa buah singkong goreng sebagai bekal Setelah memastikan bebeknya tidak ada yang hilang dan selesai memberi makan mereka, Marwah pergi ke gubuk di tengah sawah untuk beristirahat.

Saat sedang asyik memakan bekalnya, dilihatnya Adi datang mendekat ”Hmm, mau apa bocah nakal itu sekarang?” batin Marwah dalam hati Dilihat dari cengirannya yang usil, sepertinya Adi tidak merasa bersalah dengan peristiwa kemarin.

”Pagi, Budhe… habis ngasih makan bebek ya?” tanyanya.

”Iya,” Marwah mengangguk ”Mana kambingmu?” ia bertanya Tidak biasanya Adi pergi sendirian ke sawah tanpa dibuntuti kambing-kambingnya.

”Sudah dibawa bapak ke bukit sana,” Adi menunjuk bukit kecil yang ada di sebelah kiri mereka.

”Kemarin kamu mengintip Budhe ya, kenapa?” tanya Marwah saat Adi sudah duduk di sebelahnya.

”Adi suka nglihat tetek besar Budhe yang gede,” jawab Adi enteng.

Marwah memperhatikan tetek besar nya Memang benar, meski tertutup baju panjang dan jilbab lebar, benda itu terlihat sangat bulat dan menggiurkan Anak sekecil Adi aja tahu kalau tetek besar Marwah begitu montok dan besar Bocah itu tidak salah ”Selain tetek besar Budhe, kamu mau lihat apa lagi?” pancing Marwah, entah kenapa dia jadi bertanya seperti ini..

“Ya… apalagi kalau bukan tempeknya Budhe,” kata Adi seenaknya Yang dimaksud dengan tempek adalah kemaluan wanita, alias vagina.

“Kamu masih kecil, tapi sudah gatal,” Marwah nyeletuk Meski tahu kalau Adi sedikit nakal, dia tetap sayang kepada bocah itu karena Adi suka membantunya kalau Marwah lagi sibuk di sawah sendirian Semua penduduk desa tahu kalau mereka sangat dekat dan akrab Tapi tak seorang yang tahu kalau Adi suka ngomong jorok dan seenaknya.

”Tempek Budhe kemarin gatal ya, kok sampe digaruk segala?” tanya Adi mengenai masturbasi Marwah.

Marwah tersenyum lebar, ”Bukan gatal, Budhe cuma pengen kencing aja ” dia mengarang alasan.

”Perasaan, kalau ibuku kencing nggak sampai seperti itu deh,” sahut Adi.

”Kamu pernah melihat ibumu kencing?” tanya Marwah tak percaya, benar-benar sudah kelewatan bocah satu ini.

”Nggak ngeliat langsung, cuman nggak sengaja saat ibu jongkok di kebun belakang ” jelas Adi.

”Dasar kamu ya,” Marwah mengacak-acak rambut bocah itu ”Eh, kalau ngintip ibumu mandi, pernah nggak?” tanya Marwah, tiba-tiba saja terlintas pikiran itu di otaknya yang tertutup jilbab.

Adi mengangguk ”Iya, pernah ”.

“Gimana tetek ibumu, gede kan?” tanya Marwah penasaran Dia memang pernah sekali melihat ibu Adi sedang mandi di sungai, dan menurutnya tubuh perempuan itu cukup menarik juga meski wajahnya tidak cantik-cantik amat.

Adi terdiam membayangkan, ”Lumayan sih, tapi tetep lebih gede punya Budhe,” jawabnya sesaat kemudian.

Marwah tertawa mendengarnya ”Itu karena usia ibumu sudah tua, jadi teteknya kendor Coba kalau seusia Budhe, pasti ukurannya bakal sama ”.

Adi menggeleng, ”Nggak, masih lebih bagus punya tetek besar Budhe ”.

Marwah tertawa lagi “Trus, emang kenapa kalau lebih bagus punya Budhe? Kamu mau ngapain?” tantangnya.

Adi tersipu malu, ”Ya nggak apa-apa sih Adi cuma pingin pegang tetek besar, pingin hisap, pingin remas-remas!” kata bocah itu sekenanya.

“Ah, kamu ini… dasar anak kecil!” Marwah kembali mengacak-acak rambut gondrong Adi.

“Kecil apanya? Nih Budhe lihat!” tanpa disangka oleh Marwah, Adi tiba-tiba berdiri dan memelorotkan celananya.

”Adi!” pekik Marwah saat melihat kontol Adi yang sudah ngaceng keras Walau bulunya masih sangat sedikit, tapi benda itu tampak begitu mempesona Bagi seorang wanita yang haus akan sentuhan seperti Marwah, melihat kontol tepat di depan matanya seperti sekarang, tak urung dengan cepat membuat darahnya berdesir ”Gila Anak umur tujuh belas tahun, tapi kontolnya sudah mirip orang dewasa,” batin Marwah dalam hati.

“Gimana, besar kan, Budhe?” tanya Adi bangga sambil semakin memamerkan penisnya.

“Ya, lumayan juga ” Marwah tak sanggup memalingkan mukanya dari benda coklat panjang itu.

”Kok cuma lumayan, ini kan sudah gede banget ” protes Adi tidak terima.

”Memang gede sih, tapi kan belum pernah dipakai Mana bisa tahu kuat apa nggak?” pancing Marwah lebih nakal lagi.

“Dipakai buat ngentot ya, Budhe?” tanya Adi polos.

Marwah mengangguk mengiyakan ”Iya, kamu sudah pernah ngentot belum? Aku yakin belum!” yakin Marwah.

Adi tersipu malu, “Aku kepingin ngentot, Budhe, tapi bagaimana?” tanyanya bingung.

”Bukan bagaimana, tapi sama siapa! Kalau soal cara ngentot sih, Budhe bisa ngajarin ” tawar Marwah.

Adi langsung menyeringai lebar mendengarnya, ”Ya betul! Kenapa nggak sama Budhe aja?” kata Adi ceplas-ceplos.

“Gila kamu! Ngajarin kan bisa lewat tulisan atau cerita, nggak perlu harus ngentot langsung ” kilah Marwah.

“Ayolah, Budhe Masak cuma lewat tulisan, nggak seru dong!” kata Adi.


Marwah diam tidak menjawab Dia tampak berpikir keras Sebagai seorang wanita berjilbab, ia tidak boleh melakukannya Tapi di sisi lain, hati kecilnya tidak bisa dibohongi Pembicaraan ini telah memancing nafsu birahi nya Ditambah dengan kontol Adi yang besar, yang terus tersaji indah di depannya, membuat Marwah jadi sangat kesulitan untuk menentukan sikap.

Bebek-bebek terus bersuara di sekitar mereka, terkadang berenang kian kemari di air sawah yang baru saja dipanen Binatang berkaki selaput itu berebutan memakan biji padi yang masih banyak berserakan disana Sisanya yang tidak kebagian mencocorkan paruhnya ke pematang sawah, berharap mendapat cacing atau siput yang sedang sial.

“Boleh ya, Budhe?” Adi mendesak semakin berani.

Marwah menghela nafas Ia memandangi bocah kecil itu dan tersenyum, “Benar kamu mau tahu?” tanyanya penasaran dengan kemampuan Adi.

“Iya, Budhe Aku pengen sekali ngentot Apalagi dengan orang secantik Budhe, aku pingin sekali!!” seru Adi penuh semangat.

“Tapi kamu tidak boleh bercerita kepada siapapun juga Sumpah?” kata Marwah serius.
“Sumpah, Budhe Aku nggak bakal cerita sama siapapun ” Adi menganggukkan kepalanya.

Marwah tersenyum dan kembali mengacak-acak rambut gondrong Adi ”Sebentar ya,” dia melihat sekeliling, memastikan kalau mereka aman Gubuk itu berbentuk terbuka, dengan anyaman bambu yang menutupi hingga sebatas pundak Kalau mereka duduk, dari kejauhan, hanya kepala mereka yang terlihat Marwah menyadari hal ini dan tersenyum Mereka bisa melakukannya!.

Situasi juga sangat memungkinkan Hari yang masih pagi membuat para petani sibuk di sawah masing-masing Tidak akan ada yang melihat ke arah gubuk, atau bahkan mendatangi tempat dimana Adi dan Marwah sedang berada sekarang Ditambah suara ratusan bebek yang berkuek-kuek nyaring, itu bisa menyamarkan dengan baik suara desahan mereka saat ngentot nanti ”Sempurna!” Marwah membatin dalam hati Dia kemudian berpaling kembali pada Adi.

“Kamu telentang di sini dan tetap pakai bajumu Kalau ada orang lewat, kamu cepat menaikkan kembali celanamu!” kata Marwah memberi instruksi.

Adi segera mengikuti apa yang dianjurkan oleh perempuan cantik itu Dia tidur telentang dan celana melorot hingga sebatas paha, memperlihatkan burung besarnya yang mendongak gagah mencari mangsa Marwah mengelus-elus burung Adi sebentar sampai benda itu menjadi benar-benar keras Gila, ternyata kontol itu bisa membengkak sampai dua kali lipat, ukurannya juga menjadi sedikit lebih panjang Marwah sampai geleng-geleng kepala dibuatnya.

”Baru umur segini sudah begini gede, gimana kalau sudah besar nanti?” Marwah membatin dalam hati, menyadari potensi pada diri Adi sebagai pria perkasa.

Tak tahan, Marwah segera mengangkat baju panjangnya ke atas, ia menyingkapnya hingga ke pinggang Dibiarkannya Adi mengelus-elus kulit pahanya yang putih mulus sebentar ”Kamu suka, Di?” tanyanya sambil melepaskan celana dalam Dengan nakal dipamerkannya lubang memeknya yang sempit pada bocah kecil itu.

”S-suka… suka banget, Budhe!” sahut Adi dengan mata nanar menatap gundukan memek Marwah yang tersaji indah di depan hidungnya Dengan tangan gemetar ia mulai mengusap-usap dan memijitinya

”Isap, Di,” kata Marwah sambil menggeser sedikit tubuhnya, ia menaruh belahan memeknya tepat di depan mulut si bocah kecil.

Adi dengan penasaran segera menjulurkan lidahnya Rasa memek Marwah yang segar dan harum membuatnya suka, iapun menjilat dan menghisap benda itu dengan begitu rakus Adi bahkan sampai membenamkan muka ke dalam lubangnya Ia bernafas disana.

Marwah yang menerimanya jadi kelojotan tak karuan Sudah lama ia tidak merasakan nafsu birahi yang seperti ini, dan begitu mendapatkannya, ternyata Adi begitu pintar Gerakan lidahnya bagai orang yang sudah berpengalaman bertahun-tahun, padahal Marwah tahu, ini juga saat pertama Adi.

”Ahh Terus, Di Yah, disitu… isep yang mungil itu Itu namanya itil, Di Enak banget kalau diisep! Oughhh!” Marwah merintih tak karuan Tangannya menggapai-gapai untuk mencari pegangan agar tidak sampai ambruk karena saking nikmatnya Tapi yang ia temukan malah kontol besar Adi Tak apalah, daripada tidak ada sama sekali Marwah segera memeganginya dan mulai mengocoknya pelan.

Adi yang mendapat suntikan rangsangan dari Marwah, melenguh pelan dan mulai menjilat semakin keras sekarang bukan lidahnya saja yang bekerja, tapi juga tangannya Adi menyusupkan tangannya ke balik baju terusan Marwah dan menyelipkannya di balik BH perempuan cantik itu Diremas-remas tetek besar Marwah yang menggantung indah, yang selama ini selalu menjadi obsesinya dengan penuh nafsu.

Ugh, benda itu terasa begitu empuk dan kenyal Ukurannya yang sangat besar membuat tangan mungil Adi tidak bisa mencakup semuanya Dengan dua jari, Adi menjepit dan memilin-milin putingnya yang terasa mengganjal Sebentar saja, benda itu sudah menjadi begitu kaku dan keras, sama dengan kontolnya yang kini mulai dijilat dan diciumi oleh Marwah.

Saling mengulum kemaluan, mereka kini berposisi 69 Marwah di atas dan Adi di bawah Melihat kontol Adi yang menjadi kian keras dan panjang membuat Marwah jadi tak tahan Maka sambil menyodorkan memeknya ke mulut mungil si bocah, ia pun mulai menunduk untuk mengulum dan menjilati batang penis Adi.

Adi yang mendapat tambahan rangsangan dari Marwah, memekik gembira Dengan penuh nafsu ia menjilat dan menghisap memek sempit si ibu muda, sementara kedua tangannya terus bergerilya meremas-remas gundukan tetek besar Marwah yang sekarang menggantung indah di balik bajunya dan sudah tidak tertutup BH.

Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu sebelum akhirnya Marwah bangkit dan mulai mengangkangi tubuh Adi Menghadap lurus ke arah si bocah, Marwah menaruh kedua lututnya di atas balai-balai gubuk yang terbuat dari bambu.


Ditangkapnya burung Adi yang sudah menyundul-nyundul tak sabar di depan pintu gerbang surganya, lalu dituntunnya benda itu agar segera memasukinya secara perlahan Memek Marwah terasa sangat lengket dan basah, campuran antara cairan kewanitaannya yang merembes keluar dan air liur Adi Marwah terus menekan tubuhnya ke bawah saat batang penis Adi sudah menyelinap masuk.

”Oughhh…” Adi merintih dengan nafsu birahi begitu merasakan kehangatan lubang memek Marwah yang menyelimuti batang penisnya Lorongnya terasa begitu lembut dan hangat, juga sangat menggigit sekali hingga membuat Adi yang doyan onani jadi merem melek keenakan.

Sambil mengoyang perlahan-lahan, Marwah berpura-pura lagi menjaga bebeknya Ketika ada seseorang lewat di pematang seberang, dia sengaja berteriak-teriak menghalau bebek-bebeknya Orang itu tersenyum dan menyapa Marwah, ”Giat amat, Mbak Marwah Pagi-pagi sudah ke sawah ”

Menahan desahannya, Marwah tersenyum dan menjawab, ”Iya nih, Pak, oughhh… bebeknya nakal, ahh… suka nyosor ke sawah orang, ughh!”

Petani tua yang menyapanya memicingkan mata, ”Mbak Marwah nggak apa-apa? Kok kayak kesakitan gitu?” tanyanya curiga.

Marwah kembali tersenyum, ”B-banyak semut, ehss… pada ngegigit kaki saya!”

Pak Tua tersenyum, ”Hati-hati, Mbak. Disini semutnya nakal-nakal, sukanya gigit wanita cantik ”.

”I-iya, Pak, arghhh!” Marwah memekik Saat itu, berbaring di bawah tubuhnya, Adi menggenjot penisnya semakin keras Begitu kencangnya tusukan itu hingga beberapa kali kontolnya yang panjang menembus memek Marwah hingga ke pangkal Marwah jadi kelojotan dibuatnya Ia merasa sangat nikmat sekali.

Tetap tersenyum, sambil geleng-geleng kepala, si Petani Tua pergi meninggalkan Marwah Dia meneruskan langkah menuju ke sawahnya sendiri.

”Eghh… Budhe!” Adi memeluk kedua paha Marwah dan menggoyang pinggulnya semakin cepat Dia juga merasa nikmatnya nafsu birahi, bahkan lebih nikmat daripada yang dirasakan Marwah, mungkin karena ini adalah persetubuhan pertamanya.

Setiap hari, setiap kali angon kambing, Adi selalu berfantasi dan berbicara tentang kecantikan Marwah dengan teman-temannya Bocah-bocah kecil itu ramai ngomongin betapa molek dan montok nya ibu muda itu Beberapa kali mereka saling menantang, bertanya siapa yang berani menggoda Marwah duluan Dan sampai berbulan-bulan, ternyata hanya Adi yang berani mendekatinya.

Dan sekarang dia mendapatkan hasilnya, Adi bisa merasakan tubuh montok Marwah meski dalam situasi yang sangat menegangkan Tapi justru itu yang bikin nikmat, rasa deg-degan karena takut terpergok membuat mereka meresapi setiap detik tautan alat kelamin mereka.

Memandang sekeliling, Marwah memastikan kalau tidak ada lagi orang yang lewat Sambil terus menggoyang tubuhnya dari atas, ia semakin kencang menekan pinggulnya jauh ke bawah, membuat kontol Adi jadi menusuk dan menancap lebih dalam.

Mereka memekik bersamaan, cukup keras terdengar, tapi untung ada suara celoteh bebek-bebek yang menyamarkannya Marwah membungkuk dan mengeluarkan tetek besar nya dari balik jubah, ia meminta Adi untuk menghisapnya ”Ini kan yang kau inginkan?” tanyanya dengan kerlingan nakal.

Tak menjawab, Adi segera menyosor benda bulat itu Gerakan mulutnya secepat paruh para bebek yang lagi berebutan cacing Bedanya, kali ini puting Marwah lah yang menjadi sasarannya Adi mencucup dan menghisapnya dengan rakus Ia menjilatinya secara bergantian, dua-duanya ia garap secara adil, dari kiri ke kanan, lalu balik lagi lagi ke kiri Kalau sudah kelelahan, ia benamkan mukanya ke belahannya yang curam.

”Auw!” Marwah memekik kegelian menerimanya, tapi bukannya berhenti, ia malah meminta Adi agar menggigit-gigit ringan putingnya Dengan senang hati, Adipun melakukannya Dan Marwah semakin kelojotan dibuatnya, ia terus menekan tubunnya sampai dirasakannya Adi orgasme tak lama kemudian Sperma bocah itu berhamburan memenuhi lubang memeknya.

”Budhe, aku keluar!” pekik bocah itu sambil meremas kuat-kuat tetek besar Marwah.

Marwah terdiam, membiarkan Adi menikmati puncak permainannya ”Dasar bocah, baru sebentar sudah keluar ” batinnya dalam hati Tapi Marwah tak bisa menyalahkannya juga Siapa juga yang bisa tahan main lama dengannya? Jangankan Adi yang masih bau kencur, dulu suaminya saja hanya sanggup bertahan lima menit.

”Tubuhmu terlalu nikmat, Sayang!” begitu kata suaminya beralasan kalau Marwah mendengus kecewa Dan sampai laki-laki itu meninggal, Marwah tidak pernah merasakan indahnya orgasme Jadi dia maklum saja kalau Adi yang baru pertama kali ini ngentot, jadi kelihatan cupu di depannya.

”Kamu salah memilih sasaran, Di ” gumam Marwah sambil membenahi pakaiannya Dia sudah mencabut penis Adi dari belahan memeknya dan sekarang menyuruh bocah nakal itu untuk mencuci tubuhnya di sungai Marwah menyusul tak lama kemudian Jongkok di tepi sungai, ia membasuh lubang kencingnya yang penuh oleh sperma Adi.


”Budhe, punyaku bangun lagi ” seru Adi yang duduk di sebelahnya

Marwah menoleh, dan mendapati kontol Adi yang sudah tegang kembali ”Kenapa, kamu pengen lagi?” tanya Marwah menggoda Dia memegangi penis itu dan kembali mengocoknya pelan.

Adi mengangguk malu-malu, ”Iya, Budhe ”.

”Kan tadi sudah,” kilah Marwah.
”Tapi masih pengen,” rengek Adi manja.

”Besok lagi ya? Sekarang Budhe harus pulang, sudah siang ” Marwah melepas kontol Adi, membuat si bocah melenguh kecewa.

”Besok? Disini? Seperti tadi? tanya Adi penasaran.

Marwah tersenyum dan mengangguk Hatinya gembira, dia kini sudah punya ’teman’ yang bisa membantunya melepas birahi, meski itu adalah Adi, anak tetangganya yang baru berusia tujuh belas tahun Tapi tak apa, biarpun masih kecil, tapi kontolnya sudah keras dan panjang Dan kalau dilatih dengan benar, dengan bimbingan Marwah tentunya, sebentar lagi benda itu akan menjadi dewasa dan siap untuk digunakan sepenuhnya.

“Gimana, Budhe?” tanya Adi lagi, menagih janji Marwah.

Marwah mengangguk “Iya, disini Tapi ingat, kamu harus jaga rahasia ini. Kalau sampai ada orang yang tahu, bisa-bisa kamu akan dibunuh orang Kamu nggak mau kan itu terjadi?” ancam Marwah.

Adi mengangguk setuju.

Esoknya, setelah mengikat kambing-kambingnya ke pohon terdekat, Adi mendekati Marwah yang sudah menunggu di dalam gubuk ”Pagi, Budhe?” sapanya ramah.

Marwah melirik celana bocah itu, tampak sudah ada sedikit tonjolan disana, Adi rupanya sudah tak sabar ”Kok bawa kambing, kemana ayahmu?” tanya Marwah basa-basi.

Tidak menjawab, Adi malah meloncat duduk di samping Marwah dan langsung menjulurkan tangannya untuk meremas-remas tetek besar Marwah yang tersembunyi di balik baju kurung ”Adi kangen ini, Budhe ” kata bocah itu.

Marwah tersenyum dan tetap membiarkan Adi melakukannya ”Budhe juga kangen ini?” balas Marwah sambil mengelus-elus kontol Adi dari luar celana Cukup lama mereka saling merangsang hingga ada beberapa orang ibu-ibu yang lewat di belakang gubuk.

Marwah segera berpura-pura menawari Adi minum kopi ”Cepat minum, Di, sebelum keburu dingin!”.

Adi langsung menenggaknya, sama sekali tidak menyangka kalau kopi itu masih sangat panas Dia langsung mengaduh sambil jingkrak-jingkrak, lidahnya serasa terbakar Para ibu tertawa melihatnya, bahkan Marwah juga ikutan tertawa Adi jadi tersipu karena jadi bahan tertawaan Tapi untunglah, karena tingkahnya itu, jadi tidak ada yang curiga dengan apa yang baru saja ia lakukan bersama Marwah.

”Dapat kue apa, Di, dari Budhe Marwah?” tanya salah seorang ibu Mereka rupanya hendak menuju sawah Haji karim yang hari ini dipanen.

Adipun menjawab sekenanya, ”Ini, ada singkong goreng Tapi masih belum boleh dimakan, nunggu dibuka dulu ”.

ibu-ibu tertawa mendengarnya, setelah pamit pada Marwah, mereka melanjutkan perjalanan Marwah yang mengerti apa yang dimaksud oleh Adi, langsung menjitak kepala bocah itu kuat-kuat.

”Hati-hati kalau bicara, kan sudah Budhe peringatkan kemarin ” ancam Marwah.
”I-iya, Budhe ” sambil mengusap-usap kepalanya yang jadi benjol, Adi menjawab takut-takut.

Marwah jadi kasihan melihatnya Setelah melihat sekeliling, memastikan kalau situasi aman, iapun berkata pada Adi ”Udah… sini, sekarang kamu rebahan di pahaku Kepalamu di sini,” Marwah menunjuk pangkal paha di bawah perutnya ”Kamu hisap tetek besar Budhe biar lidahmu jadi dingin lagi ” kata Marwah, merujuk pada kekonyolan Adi tadi.

Mengangguk kesenengan, Adipun merebahkan kepalanya di paha Marwah, dinantikannya Marwah yang sedang sibuk melepas kancing baju panjangnya Tersenyum, Marwah mengeluarkan tetek besar nya dan memberikannya pada Adi, ia menarik keluar dua-duanya, menyajikan pemandangan yang sangat indah di mata si bocah.

Tak berkedip, Adi segera mencium dan mengulumnya, ia hisap putingnya yang bulat runcing bergantian, kiri dan kanan Bagai bayi yang kehausan, mulutnya terus menempel di dada Marwah Dengan jilbab lebarnya, Marwah menyembunyikan kepala Adi, membuat perbuatan mesum mereka jadi terasa aman.

Di sisi lain, Marwah juga tak mau tinggal diam, dia mulai mengelus-elus burung Adi Tak puas dari luar celana, ia masukkan tangannya ke dalam celana si bocah Masih tak puas juga, akhirnya ia pelorotkan celana pendek Adi ke bawah hingga kontolnya yang sudah menegang dahsyat terlontar keluar.

Marwah segera menangkap dan menggenggamnya, lalu dengan perlahan mulai dielusnya Sementara Adi terus menghisap tetek besar nya secara bergantian, Marwah mulai mengocok benda itu kuat-kuat, ia benar-benar gemas dengan kontol muda Adi.

”Ehm… ehss… enak, Budhe!” desis Adi dengan mulut tetap menempel di puting Marwah, sekarang benda itu sudah terlihat basah dan memerah karena air liurnya.

Marwah membalas dengan mengocok penis Adi semakin cepat, dan saat ia sudah mulai tak tahan, cepat-cepat Marwah menyingkap baju panjangnya dan berbaring telentang di papan Sedikit tak sabar, ia bimbing Adi agar segera menindih tubuhnya.

Gemas ditangkapnya burung bocah itu lalu cepat dimasukkannya ke dalam memek saat Adi tampak kesulitan melakukannya Begitu sudah masuk, reflek Adi segera memompa tubuhnya, membuat alat kelamin mereka sekali lagi saling mengisi dan menggesek.

Mereka melenguh berbarengan, juga merintih bersama-sama, serta berkeringat berdua sampai akhirnya Adi melepaskan spermanya tak lama kemudian Sama seperti kemarin, Marwah juga belum apa-apa Ia baru merasa nikmat, tapi Adi sudah keburu terkapar duluan Tapi lumayan, sudah sedikit lebih lama dari kemarin.

Adi segera mencabut penisnya dan duduk terengah-engah di samping Marwah, ia melihat sekeliling sembari memperbaiki celananya.

“Bagaimana, ada orang” tanya Marwah yang masih tiduran Tangannya menarik kembali bajunya ke bawah hingga menutup ke mata kaki Untuk tetek besar nya, tetap ia biarkan terbuka karena Adi masih mengusap-usap dan meremas-remasnya pelan Bocah itu tampak sangat menyukainya.

Tidak menjawab, mata Adi tetap awas melihat sekeliling Sementara tangannya juga tetap berada di atas gundukan tetek besar Marwah, meremas-remas lembut disana sambil sesekali memijit dan menjepit putingnya yang bulat mungil.

Merasa diperdayai, Marwah segera bangkit dan duduk di samping Adi Benar, sawah kelihatan sepi, sama sekali tidak ada orang Ia segera menjitak kepala bocah itu keras-keras, ”Dasar kamu, ya!” umpatnya karena sudah dibohongi.

Adi tertawa cengengesan sambil mengusap-usap kepalanya yang nyeri, sama sekali tidak kelihatan marah Malah dia mengajak Marwah untuk pergi ke sungai membersihkan diri.

Sejak itu, hubungan mereka menjadi semakin ’akrab’ Adi setiap hari meminta jatah kepada Marwah, dia sudah tidak malu-malu lagi melakukannya, sepertinya dia sudah ketagihan dengan tubuh molek ibu muda itu Marwah yang melihatnya, jadi punya ide lain.

Dengan senang hati ia memberikan tubuhnya pada Adi dengan sedikit permintaan; disuruhnya Adi ini dan itu, mulai dari menjaga bebek hingga mengangkat pakan ternak yang beratnya minta ampun Tapi Adi tampak senang-senang saja melakukannya, yang penting ia dapat merasakan tubuh mulus Marwah.

Hubungan itu terus berjalan hingga tanpa terasa sudah memasuki bulan ketiga Adi sudah semakin ahli dan pintar, beberapa kali ia bisa mengantar Marwah menuju orgasmenya. Marwah senang bukan main menerimanya, ia semakin sayang pada bocah itu Untuk jaga-jaga, Marwah ikut KB Tiap hari ia minum pil agar tidak sampai hamil Hubungan ini tidak boleh sampai berakhir.

Dan bukan hanya mereka berdua yang senang, orang tua Adi juga ikut gembira karena anaknya diperlakukan dengan baik oleh Marwah Mereka ikhlas saja melepas Adi, bahkan menyuruh bocah itu agar tak segan membantu Marwah bila ada kesulitan Misalnya seperti hari ini, saat Marwah sibuk membuat telor asin, dengan senang hati orang tua Adi mengijinkan anak mereka agar menginap di rumah Marwah.

”Biar bisa cepat selesai,” begitu kata ayahnya.

Marwah tersenyum dan mengucapkan terima kasih Di belakang, Adi bersorak gembira karena tadi siang, Marwah menjanjikannya sesuatu yang ’spesial’, dengan syarat dia mau tidur di rumahnya Adi jadi tidak sabar menunggu, apakah sesuatu yang spesial itu?

Malam bergerak lamban bagi Adi Sampai pukul 21 00, mereka masih mengerjakan pesanan telor asin yang tinggal sedikit lagi selesai Di luar, suasana cukup sepi Di Desa itu memang jarang yang keluar malam Kelelahan setelah bekerja seharian di ladang membuat banyak rumah yang sudah menutup pintu, bahkan tidak sedikit yang mematikan lampu Tak terkecuali kediaman Marwah, bahkan anak dan orang tua Marwah sudah pada tidur sejak sore tadi Hanya tinggal Adi dan Marwah yang masih melek di malam yang dingin itu.

Adi yang sudah tak sabar segera mencolek lengan Marwah, ”Gimana, Budhe?” tanyanya konak.

Marwah membalas dengan mengusap pelan kontol Ade, benda itu terasa sudah mengeras dan menegang penuh ”Sabar, tinggal sedikit lagi ” bisiknya.

Adi memindahkan tangannya ke gundukan tetek besar Marwah, membuat baju kurung yang dikenakan wanita itu jadi bernoda tanah saat dia mulai meremas-remas pelan disana Marwah hanya mendesah, tapi tidak menolak Sambil terus membuat telor asin, dia membiarkan tangan Adi tetap berkreasi.

Sekarang bocah itu malah sudah memasukkan jari-jemarinya ke sela kancing baju Marwah, menyentuh gundukan payudara nya secara langsung dan memilin-milin putingnya yang sudah mulai terasa sedikit mengeras Marwah sadar, Adi sudah benar-benar pengen, nafsu bocah itu sudah tidak dapat ditangguhkan lagi.

Meletakkan telornya yang tinggal sekeranjang lagi, Marwah segera mengajak Adi untuk mencuci tangan ke sumur belakang Setelah itu ia segera menuntun si bocah masuk ke dalam kamarnya Saat melewati dapur, Marwah mengambil sedikit minyak goreng, ditaruhnya di dalam sebuah mangkok kecil.


”Buat apa, Budhe?” tanya Adi penasaran
“Ini yang kubilang spesial kemarin,” sahut Marwah
”Budhe mau menggoreng ikan di kamar?” tanya Adi polos

Tawa Marwah meledak mendengarnya, ”Sudah, kamu diam saja ”

Mereka masuk ke kamar dan Marwah segera mengunci pintunya Dua anaknya sudah tidur di kamar yang lain, sedang yang terkecil lebih sering tidur bersama neneknya Marwah tidur sendiri di kamar ini Tapi tidak malam ini, sekarang ia ditemani Adi, yang sudah ditelanjanginya sampai bugil dan disuruhnya berbaring di atas ranjang Marwah sudah melapisi spreinya dengan plastik putih tipis transaparan.

”Panas, Budhe ” Adi mengomentari alas tidurnya yang aneh.

Marwah tersenyum saja, tapi tidak menjawab Ia mulai mencopoti seluruh bajunya hingga tak lama kemudian sudah sama-sama bugil Kontol Adi tampak semakin menegang dahsyat melihat tubuh montok Marwah yang tersaji indah di depannya Inilah untuk pertama kalinya ia melihat tubuh Budhenya secara utuh, dalam jarak yang begitu dekat, tanpa perlu harus mengintip seperti yang dilakukannya dulu.

Tetap tersenyum, Marwah segera berjalan mendekat sambil membawa mangkok berisi minyak goreng Ia duduk di samping Adi Dibiarkannya tangan Adi yang nakal mulai merambat untuk mengelus-elus seluruh tubuhnya ”Kamu suka tubuh Budhe?” tanya Marwah memancing sambil tangannya mulai melumuri burung Adi memakai minyak goreng Adi tentu saja langsung tersentak dibuatnya.

”Ehm… suka banget, Budhe! Uughh… enak!” rintihnya saat Marwah mulai mengocok kontolnya pelan.

Marwah kembali mengucurkan minyaknya, kali ini giliran perut dan dada Adi yang menjadi sasaran Dengan menggunakan gundukan tetek besar nya, Marwah kemudian menunduk untuk meratakannya Adi tentu saja langsung terkejang-kejang dipijit-pijit seperti itu Apalagi saat Marwah mulai menindih tubuhnya, dan secara perlahan memasukkan penisnya yang sudah menegang dahsyat ke dalam lubang memeknya… ugh, nyawa Adi bagai terbang ke langit ke tujuh merasakannya!

Tapi baru saja ia menggoyang, kira-kira masih sepuluh tusukan, tiba-tiba Marwah berhenti menggerakkan pinggulnya, membuat kontol Adi yang baru merasa nikmat jadi ngaceng tanggung ”Budhe, kok berhenti?” tanya Adi kecewa.

Marwah tersenyum penuh arti, ”Kamu suka, enak tidak?” tanya Marwah nakal.

Adi mengangguk cepat, ”Enak banget, Budhe Ayo goyang lagi!” pintanya.

Marwah menggeleng ”Ada lagi yang lebih enak, kamu pasti suka!” sambil berkata, dia turun dari tubuh Adi, membuat si bocah makin mendengus kesal karena merasa dipermainkan.

”Apaan, Budhe? Ayo cepetan!” seru Adi tak sabar, rasanya dia tega untuk memperkosa Marwah kalau wanita itu terus menggodanya seperti ini.

Tidak menjawab, Marwah mengambil minyak goreng lalu mulai melumuri lubang pantatnya sendiri Setelah dirasa cukup merata, dia kemudian membungkuk di depan Adi, mempertontonkan lubang pantatnya yang tampak licin dan mengkilat Adi yang tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Marwah, segera menyerbu dari belakang dan menusukkan batang kontolnya ke lubang memek si ibu muda.

”Bukan yang itu, Di ” Marwah cepat mendorong tubuh Adi ke belakang ”Tapi yang ini!” dia menunjuk lubang anusnya.

Adi celingukan, ”Apa cukup, Budhe?” tanyanya sambil membandingkan ukuran penisnya dengan lubang itu.

”Lakukan saja, nanti aku tuntun,” kata Marwah tak sabar Dia kembali menungging saat Adi mulai berlutut di belakangnya Cepat ditangkapnya burung bocah itu lalu ia tempelkan ujungnya yang tumpul ke lubang pantatnya “Ayo tusuk, Di Tekan yang kuat,” Marwah memberi perintah.

Adi mengikuti, ia tekan kontolnya kuat-kuat hingga menembus lubang sempit itu Ia merasakan bagaimana cengkeraman lubang anus Marwah bagai mencekik burungnya, tapi tetap berusaha ia tahan karena di sisi lain ia juga merasa nikmat karenanya Adi merasa kontolnya bagai diremas-remas dan dielus-elus ringan oleh lorong anus Marwah

“Ayo goyang, Di,” bisik Marwah saat rasa kebas di pantatnya sudah mulai hilang.

Adi melakukannya, ia mulai menggoyang pinggulnya perlahan hingga batang penisnya yang besar bergerak keluar-masuk dengan pelan di dalam lubang sempit Marwah ”Eghs… Terus, Di… ughh… enak!” desah Marwah keenakan Mereka terus berada dalam posisi seperti itu hingga beberapa menit lamanya.

Sambil menggoyang, Adi menggapai tetek besar Marwah yang menggantung indah di depannya untuk digunakannya sebagai pegangan Putingnya yang mungil ia pilin-pilin kuat saat penisnya keluar-masuk semakin cepat di pantat perempuan cantik itu..

”Ough… enak, Di! Terus! Tusuk yang dalam! Ahh…” Marwah menggeleng-gelengkan kepala, merasa sangat nikmat sekali Sudah lama ia tidak merasakan yang seperti ini, terakhir dengan suaminya beberapa tahun yang lalu, itupun tidak lama karena sang suami lebih suka mencoblos liang memeknya daripada lubang pantatnya Dengan Adi, Marwah jadi bisa menyalurkan fantasinya yang tertunda.

”Arghhh… Adi… aku… oughhh…” tak sanggup meneruskan kata-katanya, Marwah meledak tak lama kemudian Ia orgasme, air cintanya tumpah ruah membasahi plastik bening di atas sprei.

Adi sedikit kaget dibuatnya, ia sempat menghentikan goyangannya sebentar untuk mengintip apa yang terjadi Saat tahu kalau Marwah baik-baik saja, bahkan wanita itu terlihat puas dan bahagia sekali, barulah Adi meneruskan genjotannya, bahkan kali ini menjadi lebih cepat karena ia juga merasa tidak tahan lagi Jepitan anus Marwah yang sangat ketat dan kuat mustahil untuk dilawan.

”Arghhhh… Budhe!” menjerit tak kalah keras, Adi memeluk kuat tubuh montok Marwah dan menusukkan penisnya sedalam mungkin ke lubang dubur perempuan cantik itu, disana ia melepaskan semua spermanya berkali-kali.

Marwah si tetek besar tersenyum, semua pelajarannya untuk mendewasakan Adi kini tuntas sudah Anak itu sudah resmi menjadi lelaki dewasa Dipeluknya tubuh kurus Adi yang ambruk kelelahan di atas ranjang, ditunggunya hingga Adi siap untuk ronde yang kedua.

Malam ini adalah malam spesial, mereka tidak boleh tidur! Adi harus meremas tetek besar milik janda muda itu.

Sabtu, 11 Maret 2017

Adik Ku Telah Mendapatkan Keperawanan Ku

By On 3/11/2017 04:31:00 PM
cdewasa18.blogspot.com - Pacarku sangat ingin menerobos vaginaku jika saat berhubungan, tapi aku sendiri tidak ingin hal itu terjadi sebelum kami menikah, jadi aku mengeluarkan air maninya dengan cara swalayan, yaitu mengocok kontolnya. Aku juga kerap dipaksa menghisap kontol pacarku yang mana sebenernya aku agak jijik melakukannya.



Keseringan petting dengan pacarku membuatku menjadi haus akan belaian lelaki dan selalu iingin disentuh, sehari saja tidak dibelai rasanya tersiksa sekali…

Entah kenapa aku jadi ketagihan…

Sampai akhirnya aku melakukannya dengan tanganku sendiri dikamarku. Sering aku meraba-raba payudaraku sendiri dan mengusap-usap memeku sendiri sampai aku orgasme. Inilah kesalahan ku, aku tidak menyadari kalau selama ini adikku John sering mengintip aku…

Ini aku ketahui setelah dia mengakuinya saat berhasil membobol keperawananku, kakaknya sendiri.

Awal mulanya, ketika itu aku, mamaku dan adikku John pergi ke supermarket 500m dekat rumah. Karena belanjaan kami banyak maka kami memutuskan untuk naik becak. Saat itu aku memakai celana panjang ketat setengah lutut, dan karena kami hanya naik satu becak, aku memutuskan untuk di pangku adikku, sedangkan mamaku memangku belanjaan.

Diperjalanan yang hanya 500m itu, ketika aku duduk di pangkuan adikku, aku merasakan sesuatu bergerak-gerak dipantatku, aku sadar bahwa itu kontol adikku, keras sekali dan berada di belahan pantatku.

Link 1 : 

Aku membiarkannya, karena memang tidak ada yang bisa kulakukan. Bahkan ketika di jalan yang jelek, semakin terasa ganjalan dipantatku. Karena aku juga sangat rindu belaian pacarku yang sudah 3 hari tidak ke rumah, diam diam aku menikmatinya.

Sejak kejadian itu, aku sering melihat dia memperhatikan tubuhku, agak risi aku diperhatikan adikku sendiri, tapi aku berusaha bersikap biasa.

Suatu hari, aku dan pacarku melakukan hubungan layaknya suami istri di kamarku…

Aku sangat terangsang sekali…

Dia meraba dan membelai-belai tubuhku. Sampai akhirnya pacarku memaksakku membuka celana dalamku dan memaksaku untuk mengijinkannya memasukkan kontolnya ke memekku. Tentu saja aku keberatan, walaupun aku sangat terangsang tapi aku berusaha untuk mempertahankan keperawananku.


Dalam ketelajanganku aku memohon padanya untuk tidak melakukannya. Dan anehnya aku malah berteriak minta tolong. Hal ini di dengar oleh adikku John, dia langsung menerobos kamarku dan mengusirnya, saat itu juga pacarku ketakutan, karena memang badan adikku jauh lebih besar. Aku lansung menutupi tubuhku yang telanjang dan aku yakin adikku melihat ketelajanganku. Dan pacarku sendiri langsung memakai pakaiannya dan pamit pulang.

Sejak itu, pacarku jadi jarang ke rumah. Dari selentingan teman-teman ku, pacarku katanya mempunyai teman cewe lain yang sering jalan dengannya. Tentu saja aku sedih mendengarnya, tapi aku juga merasa beruntung tidak ternodai olehnya.

Suatu malam aku berbincang-bincang dengan adikku, aku berterima kasih padanya karena dia telah menggagalkan pacarku menodaiku. Aku kaget ketika adikku ngomong bahwa, aku ngga bisa menyalahkan pacarku karena memang bodyku sexy sekali dan setiap laki-laki pasti ingin merasakan tubuhku. Ketika kutanya, jika setiap lelaki, apakah adikku juga ingin merasakan tubuhku juga…

Link 2 : 

Dia menjawab:

“Kalau kakak bukan kakakku, ya aku juga pengen, aku kan juga lelaki”

aku sangat kaget mendengar jawabannya tapi aku berusaha itu adalah pernyataan biasa, aku langsung aja tembak, “emang adik pernah nyobain cewe?”

dia bilang “ya, belum kak”…. itulah percakapan awal bencana itu.

Malam harinya aku membayangkan bercinta dengan pacarku, aku merindukan belaiannya…

Lalu aku mulai meraba-raba tubuhku sendiri…

Tapi aku tetap tidak bisa mencapai apa yang aku inginkan…

Sekilas aku membayangkan adikku…

Lalu aku memutuskan untuk mengintip ke kamarnya…

Malam itu aku mengendap-endap dan perlahan-lahan naik keatas kursi dan dari lubang angin aku mengintip adikku sendiri, aku sangat kaget sekali ketika melihat adikku dalam keadaan tak memakai celana dan sedang memegan alat vitalnya sendiri, dia melakukan onani, aku terkesima melihat ukuran kontolnya, hampir 2 kali pacarku, gila kupikir, kok bisa yah sebesar itu punya adikku…


Dan yang lebih kaget, di puncak orgasmenya dia meneriakkan namaku…

Saat itu perasaanku bercampur baur antar nafsu dan marah…

Aku langsung balik kekamarku dan membayangkan apa yang baru saja aku saksikan.

Pagi harinya, libidoku sangat tinggi sekali, ingin dipuaskan adikku tidak mungkin, maka aku memutuskan untuk mendatangi pacarku. Pagi itu aku langsung kerumah pacarku dan kulihat dia Sangat senang aku datang… 

Ditariknya aku ke kamarnya dan kami langsung bercumbu…

Saling cium saling hisap dan perlahan-lahan baju kami lepas satu demi satu sampai akhirnya kami telanjang bulat.

Gilanya begitu aku melihat kontolnya, aku terbayang kontol adikku yang jauh lebih besar darinya…

Seperti biasa dia menyuruhku menghisap kontolnya, dengan terpaksa aku melakukannya, dia merintih-rintih keenakkan dan mungkin karena hampir orgasme dia menarik kepalaku.

“Jangan diterusin, aku bisa keluar katanya” lalu dia mula menindihi ku dan dari nafasnya yang memburu kontolnya mencari-cari lubang memekku…

Link 3 : 

Begitu unjung kontolnya nempel dan baru setengah kepalanya masuk, aku kaget karena dia sudah langsung orgasme, air maninya belepotan diatas memekku…

“Ohhhhh…” katanya.

Dia memelukku dan minta maaf karena gagal melakukan penetrasi ke memekku. Tentu saja aku sangat kecewa, karena libidoku masih sangat tinggi.

“Puaskan aku dong… aku kan belum…” rengekku tanpa malu-malu. Tapi jawabannya sangat menyakitkanku…

“Maaf, aku harus buru-buru ada janji dengan sisca” katanya tanpa ada rasa ngga enak sedikitpun.

Aku menyembunyikan kedongkolanku dan buru-buru berpakaian dan kami berpisah ketika keluar dari rumahnya.

Diperjalanan pulang aku sangat kesal dan timbul kenginanku untuk menyeleweng, apalagi selama diperjalanan banyak sekali lelaki yang mengodaku dari tukang becak, kuli bangunan sampai setiap orang di bis.

Begitu sampai rumah aku memergoki adikku yang akan pergi ke sport club, dia mengajakku untuk ikut dan aku langsung menyanguppinya karena memang aku juga ingin melepaskan libidoku dengan cara berolah raga.

Di tempat sport club, kami berolah raga dari senam sampai berenang dan puncaknya kami mandi sauna. Karena sport club tersebut sangat sepi, maka aku minta adikku satu kamar denganku saat sauna.

Saat didalam adikku bilang “kak, baju renangnya ganti tuh, kan kalau tertutup gitu keringatnya ngga keluar, percuma sauna”

“Abis pake apa” timpalku, “aku ngga punya baju lagi”

“Pake celana dalem sam BH aja kak, supaya pori-porinya kebuka” katanya

Pikirku, bener juga apa katanya, aku langsung keluar dan menganti baju renangku dengan BH dan celana dalam, sialnya aku memakai celana dalam G-string putih sehabis dari rumah pacarku tadi…


Tapi “ah, cuek aja.. toh adikku pernah liat aku telanjang juga”.

Begitu aku masuk, adikku terkesima dengan penampilanku yang sangat berani…

Kulihat dia berkali-kali menelan ludah, aku pura-pura acuh dan langsung duduk dan menikmati panasnya sauna. Keringat mencucur dari tubuhku, dan hal itu membuat segalanya tercetak didalam BH dan celana dalamku…

Adikku terus memandang tubuhku dan ketka kulihat kontolnya, aku sangat kaget, dan mengingatkanku ke hal semalam ketika adikku onani dan yang membuat libidoku malah memuncak adalah kepala kontolnya muncul diatas celana renangnya.

Aku berusaha untuk tidak melihat, tapi mataku selau melirik ke bagian itu, dan nafasku semakin memburu dan kulihat adikku melihat kegelisahanku. Aku juga membayangkan kejadian tadi pagi bersama pacarku, aku kecewa dan ingin pelampiasan.

Dalam kediaman itu aku tidak mampu untuk bertahan lagi dan aku memulainya dengan berkata:

“Ngga kesempitan tuh celana, sampe nongol gitu”

“Ia nih, si otong ngga bisa diajak kompromi kalo liat cewe bahenol” katanya

“Kasian amat tuh, kejepit. Buka aja dari pada kecekik” kataku lebih berani

“Iya yah…” katanya sambil berdiri dan membuka celananya…

Aku sangat berdebar-debar dan berkali-kali menggigit bibirku melihat batang kemaluan adikku yang begitu besar.

Tiba-tiba adikku mematikan mesin saunanya dan kembali ke tempatnya.

“Kenapa dimatiin” kataku

“Udah cukup panas kak” katanya

Memang saat juga aku merasa sudah cukup panas, dan dia kembali duduk, kami saling memandang tubuh masing-masing. Tiba-tiba cairan di memekku meleleh dan gatal menyelimuti dinding memekku, apalagi melihat kontol adikku.

Link 4 : https://goo.gl/Ekk1HM

Akal warasku datang dan aku langsung berdiri dan hendak keluar, tapi adikku malah mencegahku

“nanti kak”.

“Kan udah saunanya ” timpalku, aku sangat kaget dia berada tepat di depanku dengan kontol mengacung ke arahku, antara takut dan ingin.

“Kakak udah pernah gituan belum kak” kata adikku

“Belum” kataku, “emang kamu udah..?” lanjutku

“Belum juga kak, tapi pengen nyoba” katanya

“Nyoba gimana???? Nantikan juga ada saatnya” kataku berbalik kearah pintu dan sialnya kunci lokerku jatuh, ketika aku memungutnya, otomatis aku menunggingi adikku dan buah pantatku yang besar menempel di kontolnya..


Gilanya aku malah tetap diposisi itu dan menengok ke arah adikku. Dan tak kusangka adikku memegang pinggulku dan menempelkan kontolnya dibelahan pantatku yang hanya tertutup G-string.

“Oh kak…. bahenol sekali, aku pengen nyobain kak” katanya dengan nafas memburu.

“Aw… dik ngapain kamu” timpalku tanpa berusaha merubah posisiku, karena memang aku juga menginginkannya.

“Pengen ngentot kakak” katanya kasar sambil menekan batangnya kepantatku.

Aku menarik pantatku dan berdiri membelakanginya, “Aku kan kakak mu John, inget dong”

Adikku tetap memegang pinggulku “tolong kak.. asal nempel aja.. nga usah dimasukkin, aku ngga tahan banget”

“Tolong kak,” katanya memelas. Aku di suruh nagpain juga mau kak, asal bisa nempelin aja ke memek kakak”.

Pikiranku buntu, aku juga punya libido yang tak tertuntaskan tadi pagi..

Dan membayangkan pacarku menunggangi sisca, libidoku tambah naik..

“Persetan dengan pacar brengsek” batinku.

“Jangan disini” pintaku.

“Sebentar aja kak, asal nempel aja 1 menit” katanya meremas pinggulku.

“Kakak belum siap” kataku.

“Kakak nungging aja, nanti aku panasin” katanya.

Bagai terhipnotis aku menuruti apa katanya, sambil memegang grendel pintu, aku menungginginya dan dengam pelan-pelan dia membuka G-stringku dan melemparkannya. Dan dia jongkok di belakangku dan gilanya dia menjulurkan lidahnya menjilat memeku dari belakang…

“Oh… ngapain kamu dik…” kataku tanpa melarangnya.

Dia terus menjulurkan lidah dan menjilati memekku dari belakang.. ohhhh… gila pikirku… enak banget, pacarku saja ngga mau ngejilatin memekku, adikku sendiri dengan rakus menjilati memekku

“Gila kamu dik, enak banget, belajar dimana” rintihku… Tanpa menjawab dia terus menjilati memekku dan meremas remas bokongku sampai akhirnya lama-lama memekku basah sekali dan bagian dalam memekku gatal sekali…

Link 5 : 

Tiba-tiba dia berdiri dan memegang pinggulku..

“Udah panas kak” katanya mengarahkan kontolnya kepantatku dan memukul-mukul kepala kontolnya kepantatku….

“udah….” kataku sambil terus menungging dan menoleh ke arah adikku…

“Jangan bilang siapa-siapa yah dik” kataku.

Adikku berusaha mencari lubang memekku dengan kepala kontolnya yang besar… dia kesulitan…

“Mana lubangnya kak..” katanya.

Tanpa sadar aku menjulurkan tangan kananku dan menggengam kontolnya dan menuntun ke mulut goaku…

“Ini dik” kataku begitu tepat di depannya, “gesek-gesek aja yah dik”.

“Masukin dikit aja kak” katanya menekan kontolnya.

“aw… dik, gede banget sih” kataku, “pelan-pelan….”.

Begitu kepala kontolnya membuka jalan masuk ke memekku, adikku pelan-pelan menekannya.. dan mengeluarkannya lagi sedikit sedikit… tapi tidak sampai lepas… terus ia lakukan sampai membuat aku gemas….

“Oh.. dik…. enak…. dik…. udah yah…” kataku pura-pura…..

“Belum kak…. baru kepalanya udah enak yah….”

“Memang bisa lebih enak…???” kataku menantang.

Dan…. langsung menarik pinggulku sehingga batang kontolnya yang besar amblas ditelan memekku”

Aku merasakan perih luar biasa dan “aw…. sakit dik…” teriakku.

Adikku menahan batangnya didalam memekku ….

“Oh…kak…nikmat banget…..” dan secara perlahan dia menariknya keluar dan memasukannya lagi, sungguh sensasi luar biasa. Aku merasakan nikmat yang teramat sangat, begitu juga adikku…

“Oh, kak… nikmat banget memekmu..” katanya.

“Ssssshhhh… ia dik… enak banget” kataku.

Lima belas menit dia mengenjotku, sampai akhirnya aku merasakan orgasme yang sangat panjang dan nikmat disusul erangan adkku sambil menggengam pinggulku agar penetrasinya maksimum.


“Oh.. kak.. aku keluar.. nikmat banget…” katanya

Sejenak dia memelukku dari belakang, dan mulai mencabut kontolnya di memekku…

“Makasih kak” katanya tanpa dosa dan memakaikan celanaku lagi. Aku bingung bercampur menyesal dan ingin menangis. Akulangsung keluar dan membersihkan diri sambil menyesali diri..

“kenapa adikku????”

Link 6 : https://goo.gl/38f7fo

Dalam perjalanan pulang adikku berulang-ulang minta maaf atas perbuatannya di ruangan sauna…

Aku hanya bisa berdiam merenungi diriku yang sudah tidak perawan lagi…

Kejadian itu adalah awal petualangan aku dan adikku, Karena dua hari setelah itu kembali kami besetubuh, bahkan lebih gila lagi.. kami bisa melakukannya sehari 3 sampai 5 kali sehari semalam.
Satahun sudah aku di tunggangi adikku sendiri sampai ada seorang lelaki yang  kaya, kenalan papa ku melamarku, dan kami menikah. Untungnya suamiku tidak mempermasalahkan keperawananku.

Akhirnya aku di karunia seorang anak dari suamiku, bukan dari adikku.. karena aku selalu menjaga jangan sampai hamil bila bersetubuh dengan adikku.

Sampai sekarang aku tidak bisa menghentikan perbuatanku dengan adikku, yang pertama adikku selalu meminta jatah, dilain pihak aku juga sangat ketagihan permainan sex nya.